Arba’in Nawawi #7 Agama Adalah Nasihat

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#7 Agama Adalah Nasihat
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»
Bersumber dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat Nabi) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab, Rasul, para pemimpin muslimin dan mereka secara umum.”
Hadits ke tujuh dalam kitab Arba’in Nawawi menjelaskan mengenai agama sebagai nasihat. Makna dari agama adalah nasihat yaitu bahwa agama ini akan memberi kebahagiaan untuk siapapun yang memiliki agama. Dalam hadits tersebut dikemukakan bahwa nasihat tersebut untuk Allah SWT, untuk kitab, Rasul, para pemimpin, dan manusia secara umum.
1. Nasihat bagi Allah SWT berarti agama itu merupakan hukum-hukum Allah yang harus dilakukan dan larangan Allah yang harus ditinggalkan.
2. Nasihat bagi Kitab Allah berarti Agama itu mengajarkan iman dan mengamalkan apa yabg ada dalam Al-Qur’an.
3. Nasihat bagi Rasul Allah berarti agama itu mengajarkan untuk membenarkan ke Rasullan para utusan Allah SWT.
4. Nasihat bagi para pemimpin berarti agama itu merupakan pertolongan bagi para pemimpin untuk menjalankan kebenaran dab mengikuti perintah perintah para imam kecuali dalam kemaksiatan.
5. Nasihat untuk umumnya manusia berarti agama merupakan petunjuk bagi orang muslim baiknya agama dan urusan duniawi.
Dalam hal ini, agama akan memberikan apapun untuk kebaikan didunia maupun agama. Jika seseorang tidak memiliki agama, maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk kebaikan. Ibarat sebuah payung, jika seseorang membawa payung maka ketika hujan dia tidak akan kehujanan dan jikapun tidak hujan payung tersebut masih bermanfaat untuknya agar tidak kepananasan atau dalam kata lain dia tidak akan rugi membawa payung.

Arba’in Nawawi #6 Syubhat

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
# 6 Syubhat
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «إِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى. أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ. أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ”Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal yang samar (syubhat), sungguh dia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terjatuh pada yang syubhat, akan terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan yang suatu saat akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki batas larangan. Ketahuilah batas larangan Allah adalah hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh tubuh, tetapi jika buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Dalam hadits ke-6 ini menjelaskan mengenai perintah untuk meninggalkan perbuatan Syubhat, yaitu perbuatan yang tidak jelas haram dan halalnya. Banyak manusia yang tidak mengetahui akan hal ini. Seseorang yang menghindari perbuatan syubhat, maka dia sama saja membersihkan agamanya dan menyucikan harga dirinya. Namun, perbuatan syubhat lebih memungkinkan seseorang untuk jatuh ke haram. Seperti yang telah dicontohkan didalam hadits, seorang pengembala kambing yang mengembala disekitar lahan yang memiliki batas larangan, maka suatu saat domba bisa saja memasuki lahan tersebut.
Dalam hadits juga dijelaskan bahwa Perilaku seseorang itu muncul dari apa yang ada didalam hatinya. Jika hatinya baik maka jiwanya juga akan baik. Kebalikannya jika hatinya rusak maka rusak pula jiwanya. Misalnya seseorang yang memili sifat iri dan dengki akan cenderung memiliki kesehatan yang kurang karena dia sibuk memikirkan hidup oranglain dan cara agar dia tidak kalah saing dengan orang tersebut. Hati seseorang itu mudah berbolak-balik, kadang susah, kadang senang dan kadang sedih. Oleh karena itu, perbaiki lah hati terlebih dahulu.
“Hati yang luas dan tenang akan menghasilkan dunia yang terang”
-Dr. K. Mahsun Mahfudz, M,.Ag-

Arba’in Nawawi #5 Bid’ah

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
# 5 Bid’ah
Hadits ke-5 Kitab Arba’in Nawawi
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]
“Dari Ummul Mu’minin ; Ummu Abdillah; ‘Aisyah Radhiyallahu’anha dia berkata : Rasulullah Sallahu’alaihu wa Sallam bersabda:”siapa yang mengada-ada dalam urusaan (agama)kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak.” (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Musliam disebutkan :”siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka dia tertolak.”
Dalam hadits diatas menjelaskan mengenai perkara bid’ah. Bid’ah merupakan suatu perkara yang dikerjakan tidak sesuai contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Terdapat dua macam bid’ah, yaitu :
1. Bid’ah madzmumah, yaitu bid’ah yang tidak didasarkan pada dalil syar’i. Seperti yang dijelaskan pada hadits diatas bahwa siapa yang melakukan amalan yang tidak dicontohkan maka amalannya akan kembali pada pelakunya atau ditolak.
2. Bi’ah mahmudah, yaitu bid’ah yang membawa kepada kemaslahatan atau kebaikan. Misalnya mobil atau montor, didalam zaman nabi belum terdapat montor maupun mobil. Namun karena membawa kebaikan untuk mempermudah perjalanan manusia maka hal tersebut diperbolehkan.

Arba’in Nawawi #4 Proses Penciptaan Manusia dan Takdir

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#4 Proses Penciptaan Manusia dan Takdir
Hadits ke-4 berbunyi :
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ke-4 ini dijelaskan mengenai proses awal diciptakannya manusia. Manusia diciptakan mulai dari setetes mani sampai menjadi segumpal darah yang kemudian ditiupkan ruh didalamya bersamaan dengan takdirnya.
Takdir manusia dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Takdir Mubram, yaitu Takdir yang tidak dapat dirubah oleh siapapun karna yang tau hanya Allah SWT seperti kematian, jodoh dan rizki.
2. Takdir Muallaq, yaitu ketentuan Allah yang sudah tercatat di Lauhul Mahfudz yang bisa dirubah karena usaha manusia.
Dalam hadits diatas telah dicontohkan bahwa seseorang yang dari kecil adalah orang yang baik dan ahli ibadah. Namun, pada saat umurnya sudah tua dan menginjak waktu ajalnya dia malah melakukan perbuatan layaknya penghuni neraka, maka berdasarkan ketentuan dia masuk ke dalam neraka. Begitu pula sebaliknya orang yang pada masa hidupnya adalah seorang ahli neraka juga bisa masuk surga apabila dia melakukan amal baik sebelum detik-detik ajal menjemputnya. Jadi, jangan banga terhadap ibadah yang telah kita lakukan karna hakikat surge dan neraka hanya milik Allah SWT. Kita boleh merasa takut masuk neraka tapi kita tidak boleh putus asa untuk mengharap surga-Nya Allah SWT.
“Kematian adalah teka teki yang tidak bisa
ditebak oleh siapapun.”
-Dr. K. Mahsun Mahfudz., M. Ag

Arba’in Nawawi #3 Rukun Islam

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#3 Rukun Islam
Hadits ke-3 dalam kitab Arba’in Nawawi menjelaskan perkara rukun islam. Rukun islam merupakan pondasi dalam agama islam.
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُوْلُ: «بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ» رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan Muhammadur Rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (HR Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no 16)
Dalam hadits kedua kemarin, telah dijelaskan mengenai islam, iman, dan ihsan. Bahwa islam adalah ketika seseorang mengucakan syahadat lâ ilâha illâllâh dan Muhammadur Rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan. Namun, dalam hadits ke-3 ini diperjelas lagi bahwa kelima perkara tersebut merupakan rukun islam atau pilar-pilar yang membangun islam. Islam disini diibaratkan sebagai rumah, rumah tersebut bisa dikatakan sempurna jika telah sempurna semua bagunan dan pilar-pilarnya.
“Barangsiapa yang mengerjakan lima rukun islam Maka telah sempurna keislamannya.
Seperti rumah, telah sempurnalah semua bangunan dan pilar-pilarnya”
-Imam An-Nawawi-

Aksi IQSAN Mengabdi

Aksi IQSAN Mengabdi
Bulan suci yang dirahmati nan dinanti-nanti kini sedang dijalani. Bulan Romadhon, bulan perjuangan melawan hawa nafsu kemungkaran dan melestarikan budaya kebajikan. Di mana pintu neraka ditutup rapat-rapat dan pintu surga terbuka selebar-lebarnya. Allah SWT melipatgandakan pahala orang-orang dibulan suci ini. Lantas tanpa ragu lagi UKM IQSAN mencari keberkahan di bulan Romadhon kali ini. UKM IQSAN membuat rancangan program kerja di bulan ini untuk kemajuan dan mencari keberkahan.
Pembina UKM IQSAN Sukron Mazid., M.Pd mengharapkan bulan Romadhon ini menjadi bulan keberkahan dan IQSAN dapat semakin jaya, “Semua proker ataupun kegiatan Romadhon yang telah direncanakan kemarin, saya sangat berharap agar dapat dilaksanakan sesuai target dan bisa dikonsep dengan baik. Selain itu untuk bulan Romadhon ini UKM IQSAN harus bisa memaksimalkan kegiatan agar kita mendapatkan keberkahan dari bulan suci ini. Untuk Aksi IQSAN Mengabdi ini segera saja untuk dikonsep dan dilaksanakan dengan baik.”. Menindaklanjuti hal tersebut, IQSAN bergegas menyusun strategi dan menjalankannya.
Salah satu kegiatan yang dilakukan UKM IQSAN adalah Aksi IQSAN Mengabdi. Aksi IQSAN Mengabdi merupakan salah satu kegiatan UKM IQSAN di bulan Romadhon. Kegiatan di mana anggota maupun pengurus beraksi untuk mengajarkan dan menyampaikan sedikit pengetahuannya.
Muhammad Abdur Rouf selaku ketua UKM IQSAN memberikan pengertian dan tanggapan lebih tentang “Aksi IQSAN Mengabdi”. Dia mendukung keberlangsungan kegiatan ini karena dirasa bisa dapat bermanfaat bagi orang lain dan untuk mengasah kemampuan anggota maupun pengurus dalam pengetahuan terutama dibidang religi, “Di bulan suci Romadhon ini, IQSAN yang notabenenya UKM yang bergerak di bidang ilmu Al-Qur’an dan seni religi seharusnya bisa memanfaatkan momentum bulan suci Romadhon ini secara maksimal dengan berbagai kegiatan contohnya ya aksi IQSAN mengabdi ini agar pengurus dan anggotanya bisa mendapatkan keberkahan, rahmat, dan magfirahnya Allah SWT”.
Aksi IQSAN Mengabdi dilaksanakan pada suatu masjid di perumahan Bumi Elo Mas tepatnya berada di Jalan Elo Jetis, Jetis, Pancuranmas, Kec. Secang, Kab. Magelang. Kegiatan ini disasarkan untuk anak-anak sekitar masjid tersebut. Kegiatan ini akan berlangsung selama bulan Romadhon dengan berbagai materi yang mengasyikkan, tidak hanya materi saja melainkan diadakan sholawat bersama diiringi rebana serta nonton bareng film. Kegiatan dimulai dari pukul 16.00 hingga 17.20 WIB dengan jadwal yang telah ditentukan. Masyarakat sekitar pun menyambut dengan baik kegiatan ini, hal ini dibuktikan dengan ikut berpartisipasinya masyarakat dengan menyediakan takjil.
Selasa, 13 April 2021 merupakan hari pertama puasa dilaksanakan begitu pula pertama kalinya aksi IQSAN mengabdi bermula. Pengurus yang mengajar perdana adalah Syufaat. Kegiatan perdana ini dihadiri oleh kurang lebih 15 anak yang aktif. Materi yang disampaikan oleh Syufaat adalah rukun iman, di mana mereka diajarkan dan didampingi agar benar-benar paham dan hafal. Dengan mencoba setiap anak untuk menyebutkan rukun iman, menjadi penilaian seberapa masuknya materi yang disampaikan serta menambah keakraban.
Syufaat sebagai pengisi kegiatan tersebut merasa senang karena kegiatan positif ini dapat dilaksanakan, peserta pun dapat aktif sampai materi selesai, “Kegiatan ini positif, sebagai bentuk ibadah dan pengabdian masyarakat. Kegiatannya juga menyenangkan, anak-anak aktif membaur, tanya jawab nyambung, dan minat untuk belajar. Semoga kegiatan ini manfaat dan manfaati”. Di akhir kegiatan, anak-anak mengantre untuk mengambil takjil yang dilanjut dengan buka bersama. Aksi IQSAN Mengabdi untuk yang pertama kali berjalan dengan lancar.

Tolabul’ilmi adalah kewajiban hingga mati
Namun
Tidak ada ilmu yang abadi kecuali dibagi

Ngaji Ramadhan Part 2

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#2 Islam, Iman, dan Ikhsan
Hadits yang kedua dalam kitab Arba’in Nawawi menjelaskan mengenai islam, iman, dan ikhsan. Dalam hadits ini dijelaskan bahwa pada suatu hari malaikat Jibril As datang kepada Rasulullah SAW kemudian duduk diantara sahabat yang lain dan mengajarkan tantang tingkatan agama.
Yang pertama, jibril bertanya kepada Rasulullah mengenai apa itu islam. Kemudia Beliau menjawab bahwa islam adalah bersyahadat la illaha illallah dan muhammadur Rasulullah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.
Yang kedua, kemudia jibril bertanya tentang iman. Lalu Rasulullah menjawab bahwa iman adalah menyakini adanya Allah SWT, para malaikat-Nya, para kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan ketentuan takdir baik maupun buruk.
Ketiga kalinya Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang ikhsan. Beliau menjawab bahwa ihsan adalah ketika kita beribadah maka seolah-olah kita melihat Allah, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya maka cukup percaya bahwa Allah melihat kita.
Tidak sampai disitu saja, Jibril kemudian bertanya lagi kepada Rasulullah mengenai kapan datangnya kiamat. Dan Rasulullah menjawa bahwa yang lebih tau tidaklain adalah Jibril sendiri. Untuk terakhir kalinya, malaikat Jibril bertanya mengenai bagaimana tanda-tanda datangnya kiamat. Rasulullah kemudia menjawab bahwa tanda-tanda kiamat yaitu ketika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika kita melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan pengembala kambing saling bermegah-megah meninggikan bangunan.
Dalam hadits tersebut kita belajar bahwa islam memiliki lima rukun yang merupakan amalan yang dilakukan anggota badan dan islam memiliki enam rukun yang merupakan amalan yang dilakukan oleh hati. Selanjutnya yaitu mengenai ihsan, ihsan adalah beribadah seakan-akan kita melihat Allah SWT dan apabila kita tidak mampu maka cukup mempercayai bahwa Allah hadir atau melihat disaat kita sedang beribadah kepada-Nya. Mengenai hari kiamat, kapan itu terjadi merupakan rahasia Allah SWT. Hari kiamat hanya memiliki tanda-tanda dan tanda-tanda tersebut sudah muncul dizaman ini. Oleh karena itu mari kita focus memperbaiki amal dan ibadah kita karna ajal datang tanpa kita tau kapan dan dimana.
“Kepercayaan harus dibuktikan dengan perbuatan bukan hanya sekedar lisan”
-Dr. K. Mahsun Mahfud, M. Ag-

Ngaji Ramadhan Part 1

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#1 Niat
Hadits pertama dalam kitab arba’in nawawi menjelaskan mengenai bab niat. Hadits ini turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang melakukan hijrah ke Madinah (Hijrah ke-2). Pada saat sampai di kota Madinah, Rasululloh bertemu dengan seorang salah satu sahabat yang langsung menikah setelah hijrah. Dari Umar bin Khatab, Rasululloh SAW bersabda :
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya : “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR. Bukhari) [ No. 54 Fathul Bari] Shahih.
Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa suatu amal perbuatan itu tergantung dengan apa yang diniatkan. Jika seseorang berhijrah karena patuh terhadap perintah Allah SWT, maka ia akan mendapatkan ganjaran atau pahala. Tetapi, jika ia berhijrah hanya kerena ingin menikah atau hanya menginginkan kebahagian dunia, maka hijrahnya hanya sebatas apa yang niatkan tersebut.
Niat merupakan suatu hal yang penting. Mengapa penting ? karena dengan adanya niat maka kita dapat membedakan mana yang merupakan kebiasaan dan mana yang merupakan ibadah. Misalnya, kita makan hanya karna lapar dan supaya kenyang akan berbeda jika kita niatkan makan agar kuat menahan lapar satu hari penuh untuk berpuasa. Selain itu, niat juga untuk membedakan ibadah satu dengan ibadah yang lain.
Kunci diterima suatu niat adalah ketika kita mampu untuk ikhlas. Ikhlas adalah membenarkan kebenaran Allah SWT lalu menghadirkannya dalam hati bahwa apa yang dilakukan semata-mata hanyalah untuk Allah SWT. Jika kita ikhlas namun kita bicara bahwa kita sudah ikhlas itu namanya bukan ikhlas. Karena ikhlas itu adanya didalam hati bukan dimulut.
“Dilem yo ra bangga, dicacat yo ra susah”
“Dipuji tidak bangga, dihina tidak susah”
-Dr. K. Mahsun Mahfud, M. Ag-

Rutinan Pembacaan Mawalid

MAGELANG – Budaya ada karena suatu kebiasaan yang diadakan oleh suatu kelompok. Dianggap budaya karena sudah mendarah daging di runtutan aktivitas suatu kelompok tersebut, begitu pula budaya yang dibangun oleh UKM IQSAN. Dengan berbau keislaman dan kesenian Unit Kegiatan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Seni Rebana (IQSAN) Jum’at (2/4) menyelenggarakan kegiatan rutinan Jum’at yaitu mawalid untuk menambah kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Lokasi kegiatan rutinan Jum’at berpindah-pindah dan menyesuaikan dengan keadaan. Kegiatan rutinan Hari Jum’at tersebut dihadiri oleh para pengurus dan anggota dari UKM IQSAN Universitas Tidar.

Rutinan Jum’at kali ini berlokasi di rumah salah satu pengurus IQSAN yaitu di Kampung Ngembik Kidul, Kramat Selatan, Kota Magelang. Rutinan kali ini dihadiri oleh sekitar 30 orang dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dan yang bertugas sebagai pembawa acara adalah Raysha Kumala Zein. Diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin oleh Rahmat Fauzi. Setelah tahlil kemudian ada sambutan dari ketua UKM IQSAN Untidar atau yang mewakili, kali ini diwakili oleh Siti Kumawati yang merupakan wakil ketua UKM IQSAN Untidar. Selanjutnya adalah pembacaan mawalid yang dipimpin oleh Sufaat dan diiringi oleh divisi rebana UKM IQSAN Untidar. Acara terakhir yaitu doa dan penutup, acara berakhir sekitar pukul 15.00 WIB.

Selain untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, Rutinan Jum’at ini juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar pengurus dan anggota UKM IQSAN Untidar. Oleh karena itu, diharapkan kegiatan seperti akan terus berjalan karena membawa banyak manfaat yang positif.