Majlis Online atau Jum’at Kalam dilaksanakan setiap hari jum’at

HARI SANTRI NASIONAL 2021

Apel Virtual Kebangsaan Dalam Rangka Memperingati Hari Santri Nasional
KOTA MAGELANG – Santri Siaga Jiwa Raga merupakan slogan untuk memperingati Hari Santri Nasional 2021. Unit Kegiatan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an Dan Seni Rebana Universitas Tidar (UKM IQSAN Universitas Tidar) kembali menggelar acara untuk memperingati Hari Santri Nasional 2021 pada Hari Jum’at, (22/10/2021). Kegiatan tersebut dikemas dalam berbentuk Apel Kebangsaan yang dilaksanakan secara virtual. “Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai wujud dukungan penuh atas peran pentingnya santri untuk kemerdekaan dan keutuhan serta pertahanan Bangsa Indonesia. Selain itu sebagai wujud rasa syukur dan dukungan penuh atas keberadaan santri yang ada di Kota Magelang, terutama yang sedang belajar di Universitas Tidar” ujar Mukhammad Abdur Rouf selaku ketua UKM IQSAN periode 2021.
Apel Kebangsaan secara virtual ini dimulai dari pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul 09.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 50 orang yang terdiri dari Dosen, KAMADAR (Keluarga Alumni Arribatul Musthofa dan UKM IQSAN Untidar), pengurus UKM IQSAN periode 2021, dan para anggota UKM IQSAN UNTIDAR. Acara Apel ini dilaksanakan secara virtual sebagai wujud dukungan panitia untuk pencegahan penyebaran Covid-19. “Kondisi terikini Kota Magelang yaitu berada di Level 3, sehingga kegiatan yang dilakukan berbagai instansi harus tetap mematui protokol kesehatan secara ketat” Ujar Pegawai Kesbangpol Kota magelang disela-sela perizinan kegiatan UKM IQSAN. Acara ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari Para Pembina dan Dosen karena acara ini sangat bagus dan menarik sebagai wujud perayaan Hari Santri Nasional 2021.
Serangkaian acara tersebut meliputi Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Pembacaan Pancasila, Pembacaan UUD 1945, Amanat dari Dosen Universitas Tidar, dan dilanjutkan menyanyikan lagu Ya Lal Wathon dan Mars hari Santri Nasional. Daniel Fahmi Rizal M.Hum dalam amanat yang disampaikan, beliau menyampaikan terkait makna santri. “ Santri itu mempunyai banyak makna. Zaman dahulu santri itu artinya orang yang belajar, yang hidup dilingkungan kyai atau bisa dikatan nderek kyai. Tapi pada saat ini santri itu sangat komplek, ada santri kalong, santri digital, Santri Enterprenuer dan lain-lain. Santri mempunyai peran penting dalam kemerdekaan bangsa indonesia” Ujar Daniel Fahmi Rizal. M.Hum.
Kegiatan Apel Virtual Kebangsaan tersebut ditutup oleh doa bersama untuk kemashlahatan bersama terutama untuk memperoleh berkah dari Para Habaib, Kyai dan Alim Ulama. Tema Hari Santri Nasional 2021 ini adalah Santri Siaga Jiwa Raga. (MAR)

Islam? Haruskah Mencintai Indonesia?

Islam? Haruskah Mencintai Indonesia?
Haruskah mencintai tanah air menjadi kewajiban bagi setiap diri?
Islam berasal dari kata salima, yaslima, silman yang berarti damai, selamat dan sejahtera. Berdasarkan definisi tersebut, Islam harusnya menghadirkan kedamaian, kesejukan dan tentunya melalui jalan Islam yang ramah bukan yang marah. Dan bagaimana cinta tanah air dalam hukum Islam?
Dalam sebuah syair, dikatakan Hubbul Wathon minal Iman atau Cinta Tanah Air sebagian dari iman, Beberapa tokoh menganggap jika kalimat tersebut salah dan aneh, bahkan menganggap jika kalimat tersebut adalah hadits palsu. Dalam perjalanan sejarahnya, kalimat hubbul wathan minal iman memang bukan sebuah hadits. Prinsip tersebut pertama kali dicetuskan oleh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Konteks pencetusan kalimat tersebut adalah membangkitkan nasionalisme rakyat Indonesia untuk mengusir para penjajah.
Quraish Shihab mengungkapkan meski penisbahannya kalimat tersebut tidak sahih, Al-Qur’an mensejajarkan agama dan tanah air. Tanah air dibutuhkan sebab dia adalah ibu pertiwi dan dia menyayangi kita serta tidak kikir dengan segala apa yang dimiliki (Flora, 2020).
Dalam firman Allah yang berbunyi
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, memberi sebagian hartamu kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama atau mengusir dari Tanah Airmu” (Al-Mumtahanah ayat 8)
Dalam tafsir kemenag, ayat ini memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum Muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama mereka bersikap dan ingin bergaul baik, terutama dengan kaum Muslimin.
Nabi Agung Muhammad SAW juga menampakkan kecintaannya pada Makkah yang merupakan tanah air kelahirannya. Bahkan sebelum hijrah ke Madinah, Nabi berkata “Wahai Makkah, sumpah Demi Allah, engkau bumi yang paling aku cintai”. Beliau sangat mencintai kota Makkah bahkan sampai mengucap Wallahi yang artinya Demi Allah (Aru Elgete, 2019). Selain Nabi, para ulama juga turut menampilkan cintanya kepada bangsa dan negara. Bahkan tidak dalam kata-kata semata tapi rela mati saat memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa ulama yang menjadi pahlawan nasional seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan hingga KH Idham Cholid yang kini menghiasi mata uang Rupiah pecahan 5.000.
Berdasar beberapa perspektif tersebut, tentu sudah menjadi kepastian jika mencintai Indonesia adalah sebuah kewajiban. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan dengannya kedamaian harus ditegakkan. Dalam realisasinya masa kini, mencintai tanah air tidak perlu bersusah payah menjadi prajurit perang, tidak usah berani mati apalagi merelakan diri bunuh diri. Bisa dengan membantu tetangga kanan dan kiri, jadi berprestasi, atau paling tidak jadi pribadi yang lebih baik lagi.
Jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, justru untuk hidup di jalan Allah.
Indonesia! Cintaku Padamu Akbar!

Meili Ekawati-Sains Al-Qur’an

Referensi
Aru Elgete, F. (2019, Januari 8). Nabi Muhammad Mencintai Tanah Airnya. Retrieved from Nu Online: http://nu.or.id
Flora, M. (2020, Mei 1). Quraish Shihab: Cinta Tanah Air Adalah Bagian dari Iman. Retrieved from Liputan6: http://m.liputan6.com
Kemenag, Q. (n.d.). Retrieved from http://quran.kemenag.go.id

Pengendalian Diri di Masa Pandemi dengan Bermujahadah

Unit Kegiatan Mahasiswa Iqsan Untidar, Selasa (13/7) 2021 menggelar acara mujahadah. Acara tersebut dilaksanakan secara semi offline-online. Offline dilaksanakan di basecamp UKM IQSAN yang berada di desa Dumpoh, Magelang. Untuk online nya dilaksanakan melalui google meet. Acara tersebut berjalan dengan lancar dan khidmat, dengan adanya acara tersebut diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, dapat mencapai musyahadah dan dapat mendapatkan keberuntungan. Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus dan anggota dari UKM Iqsan sendiri.

Agenda mujahadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tak lain juga sebagai ikhtiar batin secara spiritual dalam upaya mendoakan agar pandemi covid 19 segera selesai dan setiap orang sakit yang terpapar virus ini segera sembuh khususnya warga universitas Tidar. Dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB dengan susunan acara pembukaan, sambutan ketua umum UKM Iqsan Untidar, pembacaan rotibbul Hadad, pembacaan rotibbul sakron, tahlil, dan penutup.

Sebagai seorang muslim yang percaya akan kekuatan do’a sangat meyakini dengan mujahadah dapat berpengaruh pada kondisi wabah yang sedang melanda.
Sebagai mana dawuh kiyai kharismatik yang terkenal kewalianya yaitu waliyullah simbah kiyai haji Dalhar Watucongol beliau mengatakan “akan datang pada masanya musibah/penyakit melanda banyak orang mati karenanya, akan tetapi hanya mereka selamat yang masih mau bermujahadah”

Waktupun sudah menunjukkan pukul 16.46 acara mujahadah yang diagendakan oleh UKM Iqsan Untidar telah berakhir dengan baik dan lancar.

Peringatan Nuzulul Qur’an

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ () خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ () اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ () الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ () عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Iqra` bismi rabbikallażī khalaq (1) Khalaqal-insāna min ‘alaq (2) Iqra` wa rabbukal-akram (3) Allażī ‘allama bil-qalam (4) ‘Allamal-insāna mā lam ya’lam (5)”

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia (3) Yang mengajar (manusia) dengan pena (4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5)” (Al- Alaq/96: 1-5)
Lima ayat pertama dari surat di atas yaitu surat Al- Alaq adalah ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau berada di Gua Hira pada tahun 610 M, malam ke-17 Ramadan. Peristiwa ini yang menjadi penanda diangkatnya beliau sebagai nabi dan rasul. Dan peristiwa ini juga disebut sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an yaitu peristiwa pertama kali diturunkannya wahyu Allah SWT. Sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berfokus pada Ilmu Al-Qur’an dan Seni Rebana, tentu UKM IQSAN UNTIDAR turut memperingati Nuzulul Qur’an 2021.
Meski peristiwa Nuzulul Qur’an tahun ini masih diperingati dalam kondisi darurat akibat wabah Covid-19, Kamis (29/4) Divisi Tahfidz UKM IQSAN UNTIDAR berhasil menyelenggarakan kegiatan Peringatan Nuzulul Qur’an dengan mengangkat tema “Melukis Rasa, Memupuk Cinta Terhadap Al- Qur’an di Bulan Ramadan” tentunya dalam rangka memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an 2021, meski dilakukan secara online menggunakan aplikasi zoom meeting. Kegiatan ini turut mengundang K.H. Muhammad Masyruh, S.Pd.I sebagai pemateri. Beliau adalah pengelola Pondok Pesantren dan Madin Nurul Iman Mirikerep, Madusari, Secang dan beliau juga menjabat sebagai kepala sekolah di MI Ma’arif Arrosyidin Mirikerep, Madusari, Secang. Dan kegiatan online ini dimoderatori oleh Meili Ekawati yang merupakan Kepala Divisi Sains Qur’an UKM IQSAN UNTIDAR. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri secara online oleh pembina, pengurus, dan anggota UKM IQSAN UNTIDAR. Kegiatan ini pun berjalan lancar hingga akhir, yang tentunya atas dukungan dari berbagai pihak.
Wabah Covid-19 tentu bukan halangan bagi kita semua untuk tetap memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an. Semoga kita bisa membaca banyak makna dalam menghadapi wabah Covid-19 sesuai ayat yang pertama kali turun, yaitu Iqro’. Dan mampu menjadikan setiap peringatan Nuzulul Qur’an sebagai momentum untuk refleksi dan evaluasi tentang pedoman hidup yang sudah tercantum di dalam Al- Qur’an. Selain itu, semoga kita dapat mengambil hikmah/pelajaran dari berbagai peristiwa. Aamiin.

Syawalan IQSAN sebagai Ruang Refleksi Pasca Ramadhan

Syawalan IQSAN sebagai Ruang Refleksi Pasca Ramadhan
“Bangga sanget, saget kerawuhan mahasiswa ingkang kegiatane senantiasa mendekat dateng ulama” dawuh Mbah Kiai Abdul Hakim mengawali mauidzoh khasanahnya pada acara inti halal bi halal Syawalan IQSAN. Acara tersebut diadakan pada Sabtu, 29 Mei 2021 atau 17 Syawal 1442 H.
Bertempat di Rumah Rofiqotul Fitria selaku Bendahara Umum UKM IQSAN, acara Syawalan IQSAN dihadiri oleh keluarga besar UKM IQSAN. Mulai dari pengurus dan anggota, kemudian hadir juga Pembina UKM yaitu Pak Sukron Mazid M.Pd. Selain itu, Keluarga Alumni Ar-Ribathul Musthofa dan IQSAN UNTIDAR yang menjadi pionir berdirinya UKM IQSAN turut hadir dan hurmat hingga acara selesai.
Acara Syawalan diawali dengan Ziarah Kubur ke Makam KR. Syahid di Mantingan. Ziarah telah menjadi budaya dalam keluarga IQSAN. Hal ini dilatarbelakangi ziarah kubur memiliki hikmah tersendiri, khususnya ziarah ke makam kiyai atau ulama. Hikmah yang utama yaitu mengingatkan kepada mati dan sebagai ruang refleksi setiap manusia sejatinya tidak ada yang abadi.
Sebagai acara utama, halal bi halal di kediaman Rofiqoh membawa setiap pribadi untuk memberi ruang saling memaafkan. Dalam sambutan shohibul bait, Bapak Agus Latifudin melintasi sejarah peradaban menceritakan awal mula diadakannya halal bi halal. Beliau menyampaikan terkait pencetus halal bi halal adalah KH Wahab Chasbulloh.
“Dulu, Presiden Soekarno bingung cara mengumpulkan seluruh warga Indonesia dalam satu waktu. Kemudian beliau bermusyawarah dengan KH Wahab Chasbulloh. Muncullah nama halal bi halal yang diambil dari kalimat tolabul halalin bi toriqin halalin yang artinya mencari kebaikan dengan cara yang baik” Kata Bapak Agus yang merupakan Bapak dari Saudara Rofiqoh.
Setelah itu, Mauidzoh Khasanah disampaikan oleh Mbah Kiai Abdul Hakim yang tidak lain merupakan Kakek dari Rofiqoh. Beliau memberi petuah-petuah kepada para hadirin untuk selalu eling dan waspada. Menukil dari hadis riwayat Bukhari, Mbah Kiai menjelaskan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan untuk merasakan manisnya iman.
“Jika ia ingin mendapatkan manisnya iman, pertama dia harus mencintai Allah dan RasulNya lebih dari makhluk lainnya, kedua dia harus mencintai seseorang karena Allah, dan ketiga membenci kekufuran seperti dia membenci neraka” Pungkas Mbah Kiai.
Acara ditutup dengan pembacaan maulid dan syrakal sebagai wujud munajat rindu kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Alunan rebana mengiringi untaian kalimat cinta dan romansa kepada Insan paling mulia. Apakah ada cinta yang lebih sempurna kepada Al akhirul anbiya meski raga tak pernah berjumpa?

Meili Ekawati

Upgrade Diri di Hari yang Fitri

Upgrade Diri di Hari yang Fitri

Meili Ekawati (Kadiv Sains Quran)

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mengizinkan hari raya Idul Fitri untuk kembali di tahun ini. Sebagai momentum titik balik kesadaran diri, bahwa setiap pribadi harus meng- upgrade diri di hari spesial yang fitri. Sebab diantara seremonial takbir yang menggema diseluruh antero masjid hingga mushola, pamflet ucapan selamat hari raya Idul Fitri diiringi “taqabblaallahu minna wa minkum taqabbal ya karim” yang mendominasi berbagai media, Opor Ayam hingga Rendang yang jadi menu utama, ataupun baju baru atau baju lama. Semuanya harus diesensikan dalam rangka pembenahan pribadi yang lebih baik.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri diadakan setelah puasa penuh selama bulan Ramadhan. Menilik sejarah yang ada, perayaan ini bebarengan dengan dua peristiwa besar. Peristiwa tersebut adalah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar serta revitalisasi dua hari raya masyarakat Arab jahiliyah yang diadakan dengan pesta pora (Sunatullah, 2021). Keduanya memiliki pesan dan hikmah tersendiri. Kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar mengajarkan beberapa hikmah dan pelajaran (Abror, 2021), diantaranya yaitu:
1. Tidak Bermalas-malasan
Kondisi umat Muslim sedang dalam keadaan berpuasa. Tetapi hal itu tidak menyurutkan spirit mereka untuk berperang menegakkan agama Allah. Bahkan saat jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding kubu kaum Musyrik.
2. Selalu Berdoa kepada Allah
Meskipun Nabi Muhammad saw seorang rasul dan pasti dikabulkan semua doanya, tidak kemudian menjadikan beliau bersikap santai. Beliau tetap berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi kemenangan atas kaum Musyrik. Saking khusyuknya doa Nabi saat perang Badar Kubra, Abu Bakar merasa iba melihat beliau terlalu lama bersujud dalam doanya
3. Pentingnya sikap Tawakal
Nabi Muhammad saw tidak hanya dikenal sebagai tokoh spiritual di tengah umatnya, tetapi juga sebagai komandan yang menguasai betul strategi perang. Dalam perang Badar Kubra, kita melihat bagaimana Nabi mengatur barisan tentara Muslim dan mengobarkan semangat jihad mereka. Tidak hanya itu, selain usaha zahir, beliau juga tetap berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberi kemenangan. Hasilnya, pasukan Muslim memenangkan perang besar itu. Inilah balasan bagi hamba-hamba-Nya yang bertawakal. Mengimbangi amal dengan doa. Beramal tanpa doa adalah sombong, berdoa saja tanpa bertindak sama saja bohong.

Belajar dari sejarah yang ada, nilai-nilai kehidupan pada masa Rasulullah SAW masih sangat relevan jika dilakukan pada masa kini. Mengingat salah satu prinsip yang berbunyi “Almuhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. Artinya adalah memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Kalimat tersebut memberi makna jika hal-hal baik di Bulan Ramadhan kemarin harus terus dipertahankan, kemudian dijaga, dikembangkan dan ditingkatan lagi.

Ramadhan memberi banyak pesan dan kenangan yang perlu menjadi perhatian. Pesan ukhuwah islamiyah yang semoga selalu terjaga tidak hanya dalam kegiatan buka bersama. Menahan diri dari segala nafsu meski tidak puasa. Tadarus Al-Qur’an siang malam yang terus berlanjut pasca lebaran hingga akhir hayat. Dan segala hal baik yang kita lakukan selama Ramadhan perlu dievaluasi, direvisi, dan di-upgrade sehingga puasa kita tidak sekedar menahan makan dan minum semata.

Referensi
Abror, M. (2021, April 29). Hikmah Peristiwa Perang Badar di Bulan Ramadhan. Retrieved from NU Online: https://nu.or.id/
Sunatullah. (2021, May 12). Hari Raya Idul Fitri: Sejarah, Keutamaan, dan Maknanya dalam Islam. Retrieved from NU Online: https://islam.nu.or.id/

Arba’in Nawawi #7 Agama Adalah Nasihat

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#7 Agama Adalah Nasihat
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»
Bersumber dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat Nabi) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab, Rasul, para pemimpin muslimin dan mereka secara umum.”
Hadits ke tujuh dalam kitab Arba’in Nawawi menjelaskan mengenai agama sebagai nasihat. Makna dari agama adalah nasihat yaitu bahwa agama ini akan memberi kebahagiaan untuk siapapun yang memiliki agama. Dalam hadits tersebut dikemukakan bahwa nasihat tersebut untuk Allah SWT, untuk kitab, Rasul, para pemimpin, dan manusia secara umum.
1. Nasihat bagi Allah SWT berarti agama itu merupakan hukum-hukum Allah yang harus dilakukan dan larangan Allah yang harus ditinggalkan.
2. Nasihat bagi Kitab Allah berarti Agama itu mengajarkan iman dan mengamalkan apa yabg ada dalam Al-Qur’an.
3. Nasihat bagi Rasul Allah berarti agama itu mengajarkan untuk membenarkan ke Rasullan para utusan Allah SWT.
4. Nasihat bagi para pemimpin berarti agama itu merupakan pertolongan bagi para pemimpin untuk menjalankan kebenaran dab mengikuti perintah perintah para imam kecuali dalam kemaksiatan.
5. Nasihat untuk umumnya manusia berarti agama merupakan petunjuk bagi orang muslim baiknya agama dan urusan duniawi.
Dalam hal ini, agama akan memberikan apapun untuk kebaikan didunia maupun agama. Jika seseorang tidak memiliki agama, maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk kebaikan. Ibarat sebuah payung, jika seseorang membawa payung maka ketika hujan dia tidak akan kehujanan dan jikapun tidak hujan payung tersebut masih bermanfaat untuknya agar tidak kepananasan atau dalam kata lain dia tidak akan rugi membawa payung.

Arba’in Nawawi #6 Syubhat

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
# 6 Syubhat
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «إِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى. أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ. أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ”Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal yang samar (syubhat), sungguh dia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terjatuh pada yang syubhat, akan terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan yang suatu saat akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki batas larangan. Ketahuilah batas larangan Allah adalah hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh tubuh, tetapi jika buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Dalam hadits ke-6 ini menjelaskan mengenai perintah untuk meninggalkan perbuatan Syubhat, yaitu perbuatan yang tidak jelas haram dan halalnya. Banyak manusia yang tidak mengetahui akan hal ini. Seseorang yang menghindari perbuatan syubhat, maka dia sama saja membersihkan agamanya dan menyucikan harga dirinya. Namun, perbuatan syubhat lebih memungkinkan seseorang untuk jatuh ke haram. Seperti yang telah dicontohkan didalam hadits, seorang pengembala kambing yang mengembala disekitar lahan yang memiliki batas larangan, maka suatu saat domba bisa saja memasuki lahan tersebut.
Dalam hadits juga dijelaskan bahwa Perilaku seseorang itu muncul dari apa yang ada didalam hatinya. Jika hatinya baik maka jiwanya juga akan baik. Kebalikannya jika hatinya rusak maka rusak pula jiwanya. Misalnya seseorang yang memili sifat iri dan dengki akan cenderung memiliki kesehatan yang kurang karena dia sibuk memikirkan hidup oranglain dan cara agar dia tidak kalah saing dengan orang tersebut. Hati seseorang itu mudah berbolak-balik, kadang susah, kadang senang dan kadang sedih. Oleh karena itu, perbaiki lah hati terlebih dahulu.
“Hati yang luas dan tenang akan menghasilkan dunia yang terang”
-Dr. K. Mahsun Mahfudz, M,.Ag-

Arba’in Nawawi #5 Bid’ah

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
# 5 Bid’ah
Hadits ke-5 Kitab Arba’in Nawawi
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]
“Dari Ummul Mu’minin ; Ummu Abdillah; ‘Aisyah Radhiyallahu’anha dia berkata : Rasulullah Sallahu’alaihu wa Sallam bersabda:”siapa yang mengada-ada dalam urusaan (agama)kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak.” (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Musliam disebutkan :”siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka dia tertolak.”
Dalam hadits diatas menjelaskan mengenai perkara bid’ah. Bid’ah merupakan suatu perkara yang dikerjakan tidak sesuai contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Terdapat dua macam bid’ah, yaitu :
1. Bid’ah madzmumah, yaitu bid’ah yang tidak didasarkan pada dalil syar’i. Seperti yang dijelaskan pada hadits diatas bahwa siapa yang melakukan amalan yang tidak dicontohkan maka amalannya akan kembali pada pelakunya atau ditolak.
2. Bi’ah mahmudah, yaitu bid’ah yang membawa kepada kemaslahatan atau kebaikan. Misalnya mobil atau montor, didalam zaman nabi belum terdapat montor maupun mobil. Namun karena membawa kebaikan untuk mempermudah perjalanan manusia maka hal tersebut diperbolehkan.

Arba’in Nawawi #4 Proses Penciptaan Manusia dan Takdir

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
#4 Proses Penciptaan Manusia dan Takdir
Hadits ke-4 berbunyi :
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ke-4 ini dijelaskan mengenai proses awal diciptakannya manusia. Manusia diciptakan mulai dari setetes mani sampai menjadi segumpal darah yang kemudian ditiupkan ruh didalamya bersamaan dengan takdirnya.
Takdir manusia dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Takdir Mubram, yaitu Takdir yang tidak dapat dirubah oleh siapapun karna yang tau hanya Allah SWT seperti kematian, jodoh dan rizki.
2. Takdir Muallaq, yaitu ketentuan Allah yang sudah tercatat di Lauhul Mahfudz yang bisa dirubah karena usaha manusia.
Dalam hadits diatas telah dicontohkan bahwa seseorang yang dari kecil adalah orang yang baik dan ahli ibadah. Namun, pada saat umurnya sudah tua dan menginjak waktu ajalnya dia malah melakukan perbuatan layaknya penghuni neraka, maka berdasarkan ketentuan dia masuk ke dalam neraka. Begitu pula sebaliknya orang yang pada masa hidupnya adalah seorang ahli neraka juga bisa masuk surga apabila dia melakukan amal baik sebelum detik-detik ajal menjemputnya. Jadi, jangan banga terhadap ibadah yang telah kita lakukan karna hakikat surge dan neraka hanya milik Allah SWT. Kita boleh merasa takut masuk neraka tapi kita tidak boleh putus asa untuk mengharap surga-Nya Allah SWT.
“Kematian adalah teka teki yang tidak bisa
ditebak oleh siapapun.”
-Dr. K. Mahsun Mahfudz., M. Ag