Islam? Haruskah Mencintai Indonesia?

Islam? Haruskah Mencintai Indonesia?
Haruskah mencintai tanah air menjadi kewajiban bagi setiap diri?
Islam berasal dari kata salima, yaslima, silman yang berarti damai, selamat dan sejahtera. Berdasarkan definisi tersebut, Islam harusnya menghadirkan kedamaian, kesejukan dan tentunya melalui jalan Islam yang ramah bukan yang marah. Dan bagaimana cinta tanah air dalam hukum Islam?
Dalam sebuah syair, dikatakan Hubbul Wathon minal Iman atau Cinta Tanah Air sebagian dari iman, Beberapa tokoh menganggap jika kalimat tersebut salah dan aneh, bahkan menganggap jika kalimat tersebut adalah hadits palsu. Dalam perjalanan sejarahnya, kalimat hubbul wathan minal iman memang bukan sebuah hadits. Prinsip tersebut pertama kali dicetuskan oleh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Konteks pencetusan kalimat tersebut adalah membangkitkan nasionalisme rakyat Indonesia untuk mengusir para penjajah.
Quraish Shihab mengungkapkan meski penisbahannya kalimat tersebut tidak sahih, Al-Qur’an mensejajarkan agama dan tanah air. Tanah air dibutuhkan sebab dia adalah ibu pertiwi dan dia menyayangi kita serta tidak kikir dengan segala apa yang dimiliki (Flora, 2020).
Dalam firman Allah yang berbunyi
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, memberi sebagian hartamu kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama atau mengusir dari Tanah Airmu” (Al-Mumtahanah ayat 8)
Dalam tafsir kemenag, ayat ini memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum Muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama mereka bersikap dan ingin bergaul baik, terutama dengan kaum Muslimin.
Nabi Agung Muhammad SAW juga menampakkan kecintaannya pada Makkah yang merupakan tanah air kelahirannya. Bahkan sebelum hijrah ke Madinah, Nabi berkata “Wahai Makkah, sumpah Demi Allah, engkau bumi yang paling aku cintai”. Beliau sangat mencintai kota Makkah bahkan sampai mengucap Wallahi yang artinya Demi Allah (Aru Elgete, 2019). Selain Nabi, para ulama juga turut menampilkan cintanya kepada bangsa dan negara. Bahkan tidak dalam kata-kata semata tapi rela mati saat memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa ulama yang menjadi pahlawan nasional seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan hingga KH Idham Cholid yang kini menghiasi mata uang Rupiah pecahan 5.000.
Berdasar beberapa perspektif tersebut, tentu sudah menjadi kepastian jika mencintai Indonesia adalah sebuah kewajiban. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan dengannya kedamaian harus ditegakkan. Dalam realisasinya masa kini, mencintai tanah air tidak perlu bersusah payah menjadi prajurit perang, tidak usah berani mati apalagi merelakan diri bunuh diri. Bisa dengan membantu tetangga kanan dan kiri, jadi berprestasi, atau paling tidak jadi pribadi yang lebih baik lagi.
Jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, justru untuk hidup di jalan Allah.
Indonesia! Cintaku Padamu Akbar!

Meili Ekawati-Sains Al-Qur’an

Referensi
Aru Elgete, F. (2019, Januari 8). Nabi Muhammad Mencintai Tanah Airnya. Retrieved from Nu Online: http://nu.or.id
Flora, M. (2020, Mei 1). Quraish Shihab: Cinta Tanah Air Adalah Bagian dari Iman. Retrieved from Liputan6: http://m.liputan6.com
Kemenag, Q. (n.d.). Retrieved from http://quran.kemenag.go.id