Arba’in Nawawi #6 Syubhat

Ngaji Ramadhan
Kitab Arba’in Nawawi
Bersama Dr. Mahsun Mahfudz., M. Ag
# 6 Syubhat
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «إِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى. أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ. أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ”Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal yang samar (syubhat), sungguh dia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terjatuh pada yang syubhat, akan terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan yang suatu saat akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki batas larangan. Ketahuilah batas larangan Allah adalah hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh tubuh, tetapi jika buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Dalam hadits ke-6 ini menjelaskan mengenai perintah untuk meninggalkan perbuatan Syubhat, yaitu perbuatan yang tidak jelas haram dan halalnya. Banyak manusia yang tidak mengetahui akan hal ini. Seseorang yang menghindari perbuatan syubhat, maka dia sama saja membersihkan agamanya dan menyucikan harga dirinya. Namun, perbuatan syubhat lebih memungkinkan seseorang untuk jatuh ke haram. Seperti yang telah dicontohkan didalam hadits, seorang pengembala kambing yang mengembala disekitar lahan yang memiliki batas larangan, maka suatu saat domba bisa saja memasuki lahan tersebut.
Dalam hadits juga dijelaskan bahwa Perilaku seseorang itu muncul dari apa yang ada didalam hatinya. Jika hatinya baik maka jiwanya juga akan baik. Kebalikannya jika hatinya rusak maka rusak pula jiwanya. Misalnya seseorang yang memili sifat iri dan dengki akan cenderung memiliki kesehatan yang kurang karena dia sibuk memikirkan hidup oranglain dan cara agar dia tidak kalah saing dengan orang tersebut. Hati seseorang itu mudah berbolak-balik, kadang susah, kadang senang dan kadang sedih. Oleh karena itu, perbaiki lah hati terlebih dahulu.
“Hati yang luas dan tenang akan menghasilkan dunia yang terang”
-Dr. K. Mahsun Mahfudz, M,.Ag-

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *