Upgrade Diri di Hari yang Fitri

Upgrade Diri di Hari yang Fitri

Meili Ekawati (Kadiv Sains Quran)

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mengizinkan hari raya Idul Fitri untuk kembali di tahun ini. Sebagai momentum titik balik kesadaran diri, bahwa setiap pribadi harus meng- upgrade diri di hari spesial yang fitri. Sebab diantara seremonial takbir yang menggema diseluruh antero masjid hingga mushola, pamflet ucapan selamat hari raya Idul Fitri diiringi “taqabblaallahu minna wa minkum taqabbal ya karim” yang mendominasi berbagai media, Opor Ayam hingga Rendang yang jadi menu utama, ataupun baju baru atau baju lama. Semuanya harus diesensikan dalam rangka pembenahan pribadi yang lebih baik.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri diadakan setelah puasa penuh selama bulan Ramadhan. Menilik sejarah yang ada, perayaan ini bebarengan dengan dua peristiwa besar. Peristiwa tersebut adalah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar serta revitalisasi dua hari raya masyarakat Arab jahiliyah yang diadakan dengan pesta pora (Sunatullah, 2021). Keduanya memiliki pesan dan hikmah tersendiri. Kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar mengajarkan beberapa hikmah dan pelajaran (Abror, 2021), diantaranya yaitu:
1. Tidak Bermalas-malasan
Kondisi umat Muslim sedang dalam keadaan berpuasa. Tetapi hal itu tidak menyurutkan spirit mereka untuk berperang menegakkan agama Allah. Bahkan saat jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding kubu kaum Musyrik.
2. Selalu Berdoa kepada Allah
Meskipun Nabi Muhammad saw seorang rasul dan pasti dikabulkan semua doanya, tidak kemudian menjadikan beliau bersikap santai. Beliau tetap berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi kemenangan atas kaum Musyrik. Saking khusyuknya doa Nabi saat perang Badar Kubra, Abu Bakar merasa iba melihat beliau terlalu lama bersujud dalam doanya
3. Pentingnya sikap Tawakal
Nabi Muhammad saw tidak hanya dikenal sebagai tokoh spiritual di tengah umatnya, tetapi juga sebagai komandan yang menguasai betul strategi perang. Dalam perang Badar Kubra, kita melihat bagaimana Nabi mengatur barisan tentara Muslim dan mengobarkan semangat jihad mereka. Tidak hanya itu, selain usaha zahir, beliau juga tetap berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberi kemenangan. Hasilnya, pasukan Muslim memenangkan perang besar itu. Inilah balasan bagi hamba-hamba-Nya yang bertawakal. Mengimbangi amal dengan doa. Beramal tanpa doa adalah sombong, berdoa saja tanpa bertindak sama saja bohong.

Belajar dari sejarah yang ada, nilai-nilai kehidupan pada masa Rasulullah SAW masih sangat relevan jika dilakukan pada masa kini. Mengingat salah satu prinsip yang berbunyi “Almuhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. Artinya adalah memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Kalimat tersebut memberi makna jika hal-hal baik di Bulan Ramadhan kemarin harus terus dipertahankan, kemudian dijaga, dikembangkan dan ditingkatan lagi.

Ramadhan memberi banyak pesan dan kenangan yang perlu menjadi perhatian. Pesan ukhuwah islamiyah yang semoga selalu terjaga tidak hanya dalam kegiatan buka bersama. Menahan diri dari segala nafsu meski tidak puasa. Tadarus Al-Qur’an siang malam yang terus berlanjut pasca lebaran hingga akhir hayat. Dan segala hal baik yang kita lakukan selama Ramadhan perlu dievaluasi, direvisi, dan di-upgrade sehingga puasa kita tidak sekedar menahan makan dan minum semata.

Referensi
Abror, M. (2021, April 29). Hikmah Peristiwa Perang Badar di Bulan Ramadhan. Retrieved from NU Online: https://nu.or.id/
Sunatullah. (2021, May 12). Hari Raya Idul Fitri: Sejarah, Keutamaan, dan Maknanya dalam Islam. Retrieved from NU Online: https://islam.nu.or.id/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *