Syawalan IQSAN sebagai Ruang Refleksi Pasca Ramadhan

Syawalan IQSAN sebagai Ruang Refleksi Pasca Ramadhan
“Bangga sanget, saget kerawuhan mahasiswa ingkang kegiatane senantiasa mendekat dateng ulama” dawuh Mbah Kiai Abdul Hakim mengawali mauidzoh khasanahnya pada acara inti halal bi halal Syawalan IQSAN. Acara tersebut diadakan pada Sabtu, 29 Mei 2021 atau 17 Syawal 1442 H.
Bertempat di Rumah Rofiqotul Fitria selaku Bendahara Umum UKM IQSAN, acara Syawalan IQSAN dihadiri oleh keluarga besar UKM IQSAN. Mulai dari pengurus dan anggota, kemudian hadir juga Pembina UKM yaitu Pak Sukron Mazid M.Pd. Selain itu, Keluarga Alumni Ar-Ribathul Musthofa dan IQSAN UNTIDAR yang menjadi pionir berdirinya UKM IQSAN turut hadir dan hurmat hingga acara selesai.
Acara Syawalan diawali dengan Ziarah Kubur ke Makam KR. Syahid di Mantingan. Ziarah telah menjadi budaya dalam keluarga IQSAN. Hal ini dilatarbelakangi ziarah kubur memiliki hikmah tersendiri, khususnya ziarah ke makam kiyai atau ulama. Hikmah yang utama yaitu mengingatkan kepada mati dan sebagai ruang refleksi setiap manusia sejatinya tidak ada yang abadi.
Sebagai acara utama, halal bi halal di kediaman Rofiqoh membawa setiap pribadi untuk memberi ruang saling memaafkan. Dalam sambutan shohibul bait, Bapak Agus Latifudin melintasi sejarah peradaban menceritakan awal mula diadakannya halal bi halal. Beliau menyampaikan terkait pencetus halal bi halal adalah KH Wahab Chasbulloh.
“Dulu, Presiden Soekarno bingung cara mengumpulkan seluruh warga Indonesia dalam satu waktu. Kemudian beliau bermusyawarah dengan KH Wahab Chasbulloh. Muncullah nama halal bi halal yang diambil dari kalimat tolabul halalin bi toriqin halalin yang artinya mencari kebaikan dengan cara yang baik” Kata Bapak Agus yang merupakan Bapak dari Saudara Rofiqoh.
Setelah itu, Mauidzoh Khasanah disampaikan oleh Mbah Kiai Abdul Hakim yang tidak lain merupakan Kakek dari Rofiqoh. Beliau memberi petuah-petuah kepada para hadirin untuk selalu eling dan waspada. Menukil dari hadis riwayat Bukhari, Mbah Kiai menjelaskan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan untuk merasakan manisnya iman.
“Jika ia ingin mendapatkan manisnya iman, pertama dia harus mencintai Allah dan RasulNya lebih dari makhluk lainnya, kedua dia harus mencintai seseorang karena Allah, dan ketiga membenci kekufuran seperti dia membenci neraka” Pungkas Mbah Kiai.
Acara ditutup dengan pembacaan maulid dan syrakal sebagai wujud munajat rindu kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Alunan rebana mengiringi untaian kalimat cinta dan romansa kepada Insan paling mulia. Apakah ada cinta yang lebih sempurna kepada Al akhirul anbiya meski raga tak pernah berjumpa?

Meili Ekawati

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *